“Melihat Hinano diintimidasi membuatku sangat terangsang.”
Sahabat terbaik yang sangat dicintainya—orang yang ia korbankan dirinya untuk melindungi, Yua—ada di sana menatapnya sambil rahimnya dihantam tanpa ampun oleh penis guru itu.
Pikiran Hinano tidak mampu mengikuti kenyataan yang terungkap di depannya. Ia hanya orgasme tanpa daya saat diperlakukan seperti itu, dan ketika akhirnya ia menuntut kebenaran, kata-kata yang keluar tidak memberikan penyelamatan sama sekali…
Meskipun Hinano merajuk dan mengeluh dengan pahit, Yua meraih dagunya, menatap langsung ke matanya, dan menutup mulutnya yang merengek dengan bibirnya sendiri. Satu demi satu, gelombang perkembangan yang tak henti-hentinya menghantamnya, dan Hinano hanya bisa berbaring di sana dan menerima semuanya…





